Gathering Finalis dan Supporter Duta Fisip 2014

di UNRI
UNRI

Halaman Hostpot Fisip Jumat(16/05) tidak seperti biasanya. Tak lain ialah karena dipenuhi oleh mahasiswa dan finalis Duta fisip yang datang untuk mengikuti dan menyaksikan Gathering Finalis. Kegiatan yang diadakan oleh Fisip UR menghadirkan 28 finalis Duta Fisip yang telah lulus seleksi, masing-masing peserta membawa sebanyak-banyaknya supporter mereka. Acara ini dimulai pukul 15.30 wib, di awali dengan kata pembukaan oleh panita yang merupakan finalis tahun sebelumnya.

Acara ini dibuat agar terjalin kedekatan antara finalis dan supporternya. Di dalam rangkaian acaranya kebanyakan ialah acara seru-seruan antara finalis dan supporternya dan bagi-bagi doorprice. “Acara ini sengaja dibuat agar terjalin hubungan yang tidak canggung antara finalis dan supporternya. Acara seru-seruan seperti game kecil-kecilan, bernyanyi bersama finalis dan supporter dan ada doorpricenya sehingga semua peserta semakin semangat,” ucap Eko, panitia acara.

Dalam acara ini semua finalis diwajibkan membawa minimal sepuluh supporter dan yang membawa lebih dari sepuluh kemungkinan ia akan menjadi Duta terfavorit. ”Panitia memberikan amanah kepada para finalis membawa para supporternya sebanyak mungkin dan yang paling banyak ia kemungkinan akan menyandang Duta terfavorit,” ucap Azhar Saputra, panitia acara yang lain.

Acara Gathering Finalis dan Supporter Duta Fisip ini merupakan acara pra Event ke lima untuk penentuan Duta Fisip pada (22/5) mendatang. “sebenarnya acara ini adalah acara pra event duta fisip dan ini adalah acara pra event ke lima dan tujuannya menjadi icon fisip. Setelah acara ini Pembantu Dekan (PD) III mengadakan seleksi sebagai protokuler fisip,” lanjut Azhar Saputra.

Acara Duta Fisip ini telah mengalami kemajuan yang bertahap. Para pesertanya yang semakin bersemangat, memiliki wawasan luas dan telah melalui tahap seleksi dengan kemampuan yang dimiliki masing-masing peserta. “menurut saya acara ini bagus dan sebagai pembangkit semangat para finalis dalam seleksi nantinya. Dengan para finalis yang tahun ini lebih kece-kece(cakep), semoga aja dapat melahirkan Duta Fisip yang kompetitif dan rendah hati,” ucap Ramos Roshima, mahasiswa Ilmu Komunikasi Fisip. Dengan di adakannya acara Duta Fisip ini ia berharap semoga saja Fisip semakin maju dalam melahirkan mahasiswa yang berprestasi. Semoga saja.

Makalah PERTEKOM GPS

Makalah PERTEKOM
SEJARAH GPS

Kelompok :
Fitri yanti 1201134550
Lasmawati 1201134980
Martina Faulina 1201112403
Trinata pardede 1201135136

JURUSAN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS RIAU
2014

 

 

 

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan hidayah-Nya-lah makalah yang berisikan Sejarah GPS bisa diselesaikan.
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen mata kuliah PERTEKOM. Selain itu tujuan dari penulisan makalah ini juga untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang GPS khususnya pada pengguna GPS.
Kami mengucapkan terima kasih bagi semua pihak yang telah membantu baik langsung maupun tidak langsung sehingga kami dapat menyelesaikan penulisan makalah ini.
Kami sangat menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna. Maka dari itu kritik dan saran sangat dibutuhkan agar makalah ini menjadi lebih baik lagi. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca maupun tim penulis sendiri.

Daftar isi

KATA PENGANTAR ………………………………………………………………….
Daftar isi ………………………………………………………………………………….
BAB I
PENDAHULIAN
1.2. Latar Belakang ……………………………………………………………………
1.2. Tujuan penelitian …………………………………………………………………
BAB II
PEMBAHASAN
1.1. Pengertian GPS ………………………………………………………………………
1.2. SEJARAH GPS………………………………………………………………………
1.3. KEGUNAAN GPS…………………………………………….……………………
1.4. CARA KERJA GPS…………………………………………………………………
1.5. GPS DI INDONESIA………………………………………………………………..
BAB III
Era GPS
1.1. GPS merupakan Era Telekomunikasi ………………………………………………
1.2. Perkembangan Pemetaan Zaman Dahulu Dan Saat Ini ,…………………………….
BAB IV
Penutup
Kesimpulan…………………………………………………………………..……………
Referensi ………………………………………………………………………………….

 

Pekanbaru, Mei 2014

Peyusun

BAB I
PENDAHULIAN
1.1. Latar Belakang
Dewasa ini, kebutuhan untuk mengetahui posisi keberadaan seseorang di muka bumi, menentukan arah yang harus ditempuh untuk menuju suatu tempat atau wilayah, mengetahui letak suatu wilayah, jarak tempuh dan waktu yang diperlukan untuk mencapai suatu wilayah, dan hal-hal seperti ini akan memakan waktu serta biaya yang banyak, jika kita harus mengerahkan beberapa orang dalam beberapa tim untuk menyurveinya ke seluruh dunia.

Oleh karena itu, dibuatlah suatu alat atau sistem yang pada akhirnya melahirkan teknologi mutakhir yang mampu memenuhi semua kebutuhan manusia akan arah dan wilayah, yang disebut dengan teknologi GPS (Global Positioning System). Arah dan posisi suatu wilayah memiliki peran yang sangat penting dalam berbagai aktivitas. Dan seringkali proses atau cara yang digunakan untuk mendapatkannya tidak praktis. Kehadiran teknologi GPS telah menjawab tantangan yang ada untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dengan teknologi ini manusia dapat mengetahui posisi secara real time dan juga arah jalan yang dituju.
Sayangnya, sebagian besar masyarakat Indonesia masih awam dengan gadget canggih yang satu ini. Hal ini mungkin dikarenakan penggunaan GPS hanya bagi mereka yang berkendaraan. Namun, tak dapat dipungkiri, faktor penghambat lain yang utama adalah GPS masih merupakan barang mahal bagi masyarakat kita.
Oleh karena itu, kami akan membahas beberapa hal yang berkaitan dengan masih awamnya masyarakat Indonesia dengan teknologi GPS.
Selain itu seiring dengan perkembangan zaman maka alat navigasi dibedakan menjadi beberapa tipe atau model yakni,
1. Kompas
Kompas merupakan salah satu penemuan penting dari perkambaangan ilmu pengetahuan manusia, kompas adalah salah satu alat navigasi yang mampu menentukan arah keberadaan seseorang dan mampu menunjukkan arah. Penemuan kompas pertama adalah kompas magnetik, kompas ini merupakan hasil penemuan mengenai medan magnet besar yang berada di dalam bumi, yang diduga akibat dari pergeseran inti cair dan semi cair yang berada dalam pusat bumi. (150 fahrul). Kompas ini pertama kali ditemukan pada abad ke-6 dan ditemukan oleh orang Cina kemudian digunakan oleh orang Eropa yakni Christoper Columbus yang menggunakan kompas sebagai alat navigasi pengganti alam, sehingga Christoper Columbus mampu menemukan benua Amerika()
2. Peta
Peta merupakan perlengkapan utama dalam penggambaran dua dimensi (pada bidang datar) keseluruhan atau sebagian dari permukaan bumi yang diproyeksikan dengan perbandingan/skala tertentu.
3. Radar
Radar adalah merupakan singkatan yang diciptakan di tahun 1940 untuk radio detection and ranging. Yang menjelaskan bagaimana radar berfungsi. (). Radar banyak digunakan untuk transportasi udara seperti pesawat terbang, karena sistem navigasi ini merupakan alat yang mampu mendeteksi sinyal gelombang radio berfrekuensi tinggi dan radar digunakan sebagai alat untuk mendeteksi keberadaan pesawat ketika sedang mengudara.
4. GPS(Global Positioning System)
Global Positioning System (GPS) merupakan perkembangan alat navigasi dari kompas, dan radar. Alat ini pertama ditemukan oleh Ivan Getting dan Brad Parkinson. GPS funginya hampir ssama dengan kompas maupun radar namun GPS telah lebih berkembang karena GPS dapat menunjukkan posisi dimana si pengguna berada dengan bantuan satelit luar angkasa. Satelit ruang angkasa akan memberikan sinyal radio dengan kecepatan tinggi dan sama dengan kecepatan sinar cahaya (186.000 mil atau 300.000 km per detik) (Sindoro, Aleksander, 2006: 241) dan koordinat posisi dimana GPS tersebut digunakan kemudian GPS akan menyimpan informasi tersebut dan diubah menjadi sebuah peta elektronik yang akan disimpan di dalam memori alat penerima. Hal ini akan membantu orang dalam menemukan titik koordinat suatu wilayah atau tempat.
Alat navigasi tersebut dapat digunakan sebagai alat untuk menunjukkan arah mata angin maupun sebagai alat untuk menentukan koordinat suatu lokasi, sistem navigasi sudah dipergunakan oleh bangsa Mesir kuno sebagai alat untuk pelayaran dan kemudian di

1.2. Tujuan penelitian
Kebutuhan manusia akan arah dan letak memang merupakan barang langka yang baru bisa dipenuhi satu dekade terakhir ini. Penemuan dan pengembangan teknologi GPS merupakan terobosan suskes manusia yang semakin merealisasikan ungkapan “dunia dalam genggaman manusia”. Bagaimana tidak jika teknologi GPS yang dengan bantuan “kroni-kroni” satelitnya mampu merekam bumi dari berbagai sudut ini bahkan sudah dimasukkan ke dalam teknologi telpon genggam yang sudah marak beredar di pasaran saat ini? Jadi Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis perkembangan GPS hingga saat ini.

 

 

BAB II
PEMBAHASAN

1.1. Pengertian GLOBAL POSITIONING SYSTEM (GPS)
Global Positioning System (GPS) adalah suatu sistem navigasi yang memanfaatkan satelit. Penerima GPS memperoleh sinyal dari beberapa satelit yang mengorbit bumi. Satelit yang mengitari bumi pada orbit pendek ini terdiri dari 24 susunan satelit, dengan 21 satelit aktif dan 3 buah satelit sebagai cadangan. Dengan susunan orbit tertentu, maka satelit GPS bisa diterima di seluruh permukaan bumi dengan penampakan antara 4 sampai 8 buah satelit. GPS dapat memberikan informasi posisi dan waktu dengan ketelitian sangat tinggi.

Nama lengkap GPS adalah NAVSTAR GPS (Navigational satellite Timing and Ranging Global Positioning System), namun lebih sering dikenal sebagai GPS. GPS mulai diaktifkan untuk umum pada 17 Juli 1995.

Sedangkan, Assisted-Global Positioning System (A-GPS) merupakan penyempurnaan dari GPS sebagai satelit penentu posisi di belahan bumi.Satelit GPS yang dimiliki bumi mempunyai konstelasi 24 satelit dalam enam orbit yang mendekati lingkaran, setiap orbit ditempati oleh 4 buah satelit dengan interval antara yang tidak sama. Orbit satelit GPS berinklinasi 550° terhadap bidang equator dengan ketinggian rata-rata dari permukaan bumi sekitar 20.200 km.

Metode Advanced Positioning yang terdapat pada A-GPS merupakan metode penentuan posisi yang paling tinggi akurasinya dibandingkan metode deteksi posisi lainnya seperti misalnya Time Difference Of Arrival (TDOA), maupun Enhanced Observed Time Difference (E-OTD) sehingga A-GPS jauh lebih efisien dan efektif dalam mengakses informasi dari satelit karena tidak perlu mencari data satu persatu dari ke-24 satelit yang ada, namun A-GPS telah mengetahui sasaran (satelit) mana yang dibutuhkan atau dituju.

1.2. SEJARAH GPS
Amerika Serikat merupakan negara pencetus dan pemrakarsa GPS. Pada dasarnya, bentuk sistem teknologi GPS sama dengan sistem navigasi radio pangkalan pusat, seperti LORAN dan Decca Navigator yang dikembangkan pada tahun 1940-an dan digunakan selama Perang Dunia II. Inspirasi pembuatan sistem GPS sebenarnya datang dari Uni Soviet yang pada saat itu, tahun 1957, meluncurkan satelit pertama mereka, Sputnik.

Sebuah tim ilmuwan AS yang dipimpin oleh Dr. Richard B. Kershner saat itu memonitor transmisi radio Sputnik. Mereka menemukan bahwa Efek Doppler berpengaruh pada transmisi radio, di mana sinyal frekuensi yang ditransmisi Sputnik sangat tinggi saat baru diluncurkan dan semakin rendah seiring dengan satelit menjauhi bumi. Mereka menyadari bahwa dengan mengetahui letak bujur lokasi mereka dengan tepat di peta dunia, mereka mampu melacak posisi satelit tersebut mengorbit berdasarkan tolak ukur penyimpangan Efek Doppler.

Transit, satelit sistem navigasi pertama yang digunakan oleh Angkatan Laut AS sukses diujicobakan pertama kali pada tahun 1960. Sistem yang menggunakan kumpulan dari lima satelit ini mampu menentukan posisi sekali tiap jamnya. Pada tahun 1967, AL AS mengembangkan satelit Timation yang membuktikan kemampuannya dengan menetapkan waktu yang akurat di angkasa, merupakan teknologi acuan sistem GPS. Tahun 1970-an, Sistem Navigasi Omega pangkalan pusat, berdasarkan pembandingan fase sinyal, menjadi sistem navigasi radio pertama yang meliputi seluruh dunia.

Satelit percobaan pertama Block-I GPS diluncurkan pada Februari 1978. Satelit-satelit GPS pertama kali dibuat oleh Rockwell International (sekarang merupakan bagian dari Boeing) dan sekarang dibuat oleh Lockheed Martin (IIR/IIR-M) dan Boeing (IIF).

Timeline:

* Pada tahun 1972, Holloman AFB AS melakukan perbandingan pengujian dua prototipe penerima GPS di atas White Sand Missile Range, menggunakan satelit tiruan pangkalan pusat.
* Tahun 1978, satelit percobaan pertama Block-I GPS diluncurkan.
* Tahun 1983, setelah pesawat interseptor Rusia menembak pesawat terbang sipil KAL 007 di wilayah udara terlarang Rusia, yang membunuh 269 orang dalam peristiwa tersebut, presiden AS Ronald Reagan mengumumkan bahwa sistem GPS akan dapat digunakan oleh rakyat sipil begitu sistem itu selesai dibuat.
* Tahun 1985, sepuluh satelit percobaan Block-I GPS tambahan diluncurkan untuk memvalidasi konsep tersebut.
* Pada 14 Februari 1989, satelit modern Block-II pertama diluncurkan.
* Tahun 1992, Space Wing kedua, yang pada dasarnya mengontrol sistem, di-nonaktifkan dan diganti dengan Space Wing ke-50.
* Pada Desember 1993 sistem GPS mampu beroperasi untuk pertama kalinya.
* Pada 17 Januari 1994, konstelasi komplit 24 satelit telah mengorbit.
* Kemampuan untuk beroperasi penuh dideklarasikan oleh NAVSTAR pada April 1995.
* Tahun 1996, menyadari pentingnya GPS bagi rakyat sipil, presiden AS Bill Clinton mengeluarkan kebijakan langsung yang menyatakan GPS sebagai dual-use system dan mendirikan Interagency GPS Executive Board untuk mengatur penggunaannya sebagai aset negara.
* Tahun 1998, Wakil Presiden AS Al Gore mengumumkan rencana untuk mengupgrade GPS dengan dua sinyal sipil untuk mempertinggi keakuratan dan keandalan pengguna, terutama dengan respek terhadap faktor keselamatan penerbangan.
* Pada 2 mei 2000, “Selective Availability” tidak dilanjutkan sebagai hasil dari Peraturan Pemerintah tahun 1996, memungkinkan pengguna untuk menerima sinyal tidak bertingkat secara global.
* Tahun 2004, pemerintah AS menandatangani sebuah perjanjian bersejarah dengan Komunitas Eropa membangun kerjasama dalam bidang GPS dan rencana sistem Galileo Eropa.
* Tahun 2004, presiden AS George W. Bush memperbaharui kebijakan nasional, menggantikan lembaga eksekutif dengan National Space-Based Positioning, Navigation, and Timing Executive Committee.
* November 2004, QUALCOMM mengumumkan keberhasilan menguji aplikasi bantuan sistem GPS pada telepon genggam.
* 2005, satlelit GPS pertama yang dimodernisasi diluncurkan dan mulai mentransmisikan sinyal sipil kedua (L2C) untuk meningkatkan manfaatnya bagi pengguna.
* Peluncuran terbaru pada 17 Oktober 2007. Satelit GPS tertua yang masih beroperasi diluncurkan pada 4 Juli 1991 dan mulai dioperasikan pada 30 Agustus 1991.
* 14 September 2007, peraturan tentang Sistem Pengendalian Segmen Pusat yang telah usang digantikan dengan Rencana Evolusi Arsitektur yang baru.

1.3. KEGUNAAN GPS
• Militer
GPS digunakan untuk keperluan perang, seperti menuntun arah bom, atau mengetahui posisi pasukan berada. Dengan cara ini maka kita bisa mengetahui mana teman, mana lawan untuk menghindari salah target ataupun menentukan pergerakan pasukan.
• Navigasi
GPS banyak juga digunakan sebagai alat navigasi seperti kompas. Beberapa jenis kendaraan telah dilengkapi dengan GPS untuk alat bantu navigasi. Dengan menambahkan peta, maka bisa digunakan untuk memandu pengendara sehingga pengendara bisa mengetahui jalur mana yang sebaiknya dipilih untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
• Sistem Informasi Geografis Untuk keperluan Sistem Informasi Geografis, GPS sering juga diikutsertakan dalam pembuatan peta, seperti mengukur jarak perbatasan, ataupun sebagai referensi pengukuran.
• Pelacak kendaraan  Kegunaan lain GPS adalah sebagai pelacak kendaraan. Dengan bantuan GPS, pemilik kendaraan/pengelola armada bisa mengetahui ada di mana saja kendaraannya/aset bergeraknya berada saat ini.

• Pemantau Gempa
Bahkan saat ini, GPS dengan ketelitian tinggi bisa digunakan untuk memantau pergerakan tanah, yang ordenya hanya milimeter dalam setahun. Pemantauan pergerakan tanah berguna untuk memperkirakan terjadinya gempa, baik pergerakan vulkanik ataupun tektonik.

• Navigasi Pesawat Terbang
Kebanyakan sistem penerbangan menggunakan alat GPS biasa dalam penerbangan, kecuali ketika mendarat dan lepas landas, sama seperti alat elektronik lain. Larangan penggunaan GPS disebabkan adanya isu keselamatan, yaitu tidak ingin penumpang memetakan posisinya. Sebaliknya, sebagian penerbangan juga memasukkan GPS ke dalam sistem hiburan penerbangan. Dengan pengamatan GPS, maka informasi posisi 3D, kecepatan dan percepatan pesawat terbang dapat ditentukan secara teliti. Di samping itu GPS juga dapat digunakan sebagai sistem navigasi pesawat terbang pada saat survey dengan metode real time DGPS (Differential Global Positioning System).

• Penangkapan Ikan di Perairan Luas
Trimble memperkenalkan penerima GPS pertama di dunia untuk navigasi laut pada tahun 1985. Dan seperti yang mungkin kita duga, menavigasikan perairan dunia menjadi lebih tepat daripada sebelumnya. Saat ini alat penerima Trimble dapat ditemukan di perahu-pearhu di seluruh dunia, mulai dari perahu nelayan, kapal kargo pengantar barang, sampai kapal-kapal pesiar mewah. Sebuah perusahaan penangkapan ikan asal Selandia Baru menggunakan GPS supaya mereka dapat kembali ke wilayah terbaik untuk menangkap ikan tanpa perlu tersesat sebelumnya.

1.4. CARA KERJA GPS

Perangkat GPS menerima sinyal dari satelit dan kemudian melakukan perhitungan sehingga pada tampilan umumnya kita dapat mengetahui posisi (dalam lintang dan bujur), kecepatan, dan waktu. Disamping itu juga informasi tambahan seperti jarak, dan waktu tempuh. Posisi yang ditampilkan merupakan sistem referensi geodetik WGS-84 dan waktu merupakan referensi USNO (U.S. Naval Observatory Time).
Ilmuwan mengembangkan suatu konfigurasi untuk sistem GPS yang dapat menjangkau secara global dengan menggunakan sedikitnya 21 satelit pada medium earth orbit (MEO).

• 21 satelit yang aktif dan 3 satelit cadangan.
• Enam bidang orbit. Ketinggian: 20,200 km. Period: 11 jam 58 menit. Kemiringan: 530
• Empat satelit per pesawat.
• Lima stasiun pengawasan

Pada awalnya, peneliti berpendapat bahwa sebuah konfigurasi garis edar bumi geostationary (GEO) berada pada 36,000 km. Namun hal ini dibantah karena pendapat tersebut berarti satelit-satelit akan memerlukan pemancar yang lebih kuat dan sarana peluncuran yang lebih tangguh. Selain itu, GEO akan memberikan jangkauan daerah kutub yang lemah. Bahkan konfigurasi test pendahuluan menunjukan bahwa pesawat – pesawat peluncur berada pada kemiringan 630. 24 satelit-satelit GPS yang baru berada pada konfigurasi Block II, dan telah diluncurkan antara tahun 1989 dan 1994.

Konfigurasi ini menunjukan bahwa enam pesawat berada pada kemiringan 550. Berada pada posisi garis bujur yang sama yaitu pada 600 garis bujur, kemiringan ini memberikan jangkauan global terbaik, termasuk daerah kutub. Satelit-satelit bahkan dibagi menjadi empat generasi: II, IIA, IIR dan IIF. Perbedaan-perbedaan yang utama ada pada ketelitian dan jumlah maksimum hari tanpa kontak dari stasiun pemantauan dan kendali.
Stasiun pengawasan mengirimkan data yang baru dan telah diperbaiki kepada masing-masing satelit setiap empat jam. Data ini mencakup koreksi terhadap waktu dan posisi yang tepat dari satelit tersebut dan satelit-satelit GPS lainnya yang berada di dalam orbit. Data terbaru mengenai posisi satelit dapat ditentukan dengan melakukan pengukuran GPS terhadap ground antenna di lokasi yang telah diketahui. Stasiun pengawasan ditempatkan di dekat garis katulistiwa untuk mengurangi efek ionospheric.

Konsep GPS
Hubungan mendasar antara satelit dan receiver digambarkan dalam lima langkah-langkah di bawah ini :

1. Receiver menerima sinyal dari satelit GPS.
2. Hal tersebut menentukan perbedaan antara waktu yang ada dengan waktu yang disampaikan melalui frekuensi yang ada.
3. Sinyal yang dikirimkan juga menghitung jarak satelit dari receiver, dengan memperhitungkan bahwa sinyal tersebut dikirim dengan kecepatan cahaya.
4. Receiver menerima sinyal dari dua satelit yang lain, dan kembali menghitung jarak dari mereka.
5. Dengan mengetahui jarak nya dari tiga lokasi yang berbeda, receiver mentrianggulir (triangulation) posisi nya.

GPS memiliki dua tingkat ketelitian:
* Sistem posisi standar (standard positioning system / SPS)
SPS merupakan yang disediakan untuk umum (sipil). Tingkat akurasi yang dihasilkan adalah 100 m untuk posisi horisontal dan 150 meter untuk posisi vertikal.
* Sistem posisi presisi (precision positioning system / PPS)
PPS digunakan oleh Departemen Pertahanan AS dan tidak disediakan untuk umum.

Penerima GPS menghitung posisinya dengan mengukur jarak antara posisinya dan tiga atau lebih satelit GPS lainnya. Masing-masing satelit memiliki jam atom dan secara berkesinambungan mengirimkan pesan-pesan yang memuat waktu dan lokasi yang tepat. Penerima menggunakan jamnya untuk menetapkan dengan seksama waktu penerimaan setiap pesan. Hal itu membuat jarak dengan setiap satelit sejak pergerakan sinyal bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya. Dengan mengetahui jaraknya dengan sedikitnya tiga satelit dan posisi satelit tersebut, penerima menghitung posisinya menggunakan trilaterasi. Kenyataannya, penerima-penerima tersebut biasanya tidak memiliki ketepatan waktu yang akurat, tetapi melacak empat satelit atau lebih sehingga memungkinkan mereka untuk menetapkan baik lokasi maupun waktu yang akurat.

Untuk mengetahui posisi dari GPS, diperlukan minimal 3 satelit. Pengukuran posisi GPS didasarkan oleh sistem pengukuran matematika yang disebut dengan Triliterasi. Yaitu pengukuran suatu titik dengan bantuan 3 titik acu. Misalnya anda berada di suatu kota A (disini kota kita anggap sebagai titik), tetapi anda tidak mengetahui dimana anda berada. Untuk mengetahui keberadaan anda, anda bertanya kepada seseorang, dan orang tersebut menjawab bahwa anda 2 km dari kota B.

Jawaban ini tidak memuaskan anda karena anda tidak tahu apakah anda di sebelah selatan, utara, barat, atau timur kota B. Kemudian anda bertanya kepada orang ke-2 dan mendapat jawaban bahwa anda berada 5 km dari kota C. Dengan jawaban ini anda sudah dapat membayangkan dimana posisi anda, hanya ada kemungkinan 2 titik berbeda yang berpotongan antara lingkaran dengan radius kota A dengan kota B dan lingkaran dengan radius kota A dengan kota C. Untuk lebih memperjelas lagi anda mumerlukan orang ke-3, misalnya anda berada di 1 km dari kota D.

Dengan demikian anda mendapatkan perpotongan antara lingkaran dengan radius jarak kota A ke kota B, lingkaran antara kota A dan kota C, dan lingkaran antara kota A dan kota D. Dalam GPS kota A adalah alat penerima GPS, kota B, C, dan D adalah Satelit. Beberapa fungsi dari GPS adalah : 1. Untuk melakukan navigasi terhadap kapal laut dan pesawat terbang. 2. Untuk menentukan jarak-jarak tertentu 3. Untuk melakukan suatu penemuan di bidang geografi 4. dll.

1.5. GPS DI INDONESIA
GPS sebenarnya bukan lagi barang baru di Indonesia. Hal ini terbukti karena sejak tahun 1999 PT Ratnacahaya Nusawiria yang berpusat di Bandung mampu mengembangkan sistem aplikasi navigasi berbasis GPS yang tak kalah canggih dengan aplikasi sejenis, seperti buatan Mapking, Navifone, atau Solomap, yang sekarang terpasang di beberapa ponsel yang memiliki fitur GPS (Kompas, 30 Agustus 2007).

Selain itu, pada bulan Aprill tahun 2000, Pusat Penelitian Antar Universitas bidang Mikroelektronika bekerjasama dengan Lembaga Penelitian dan Pengembangan ITENAS menyelenggarakan seminar – workshop tentang Global Positioning System (GPS) di Hotel Savoy Homann Bandung.

Topik seminar – workshop ini adalah mengenai Potensi dan Aplikasi Teknologi GPS. Acara ini digunakan sebagai wahana untuk mengetahui status dan potensi penerapan sistem GPS di Indonesia, khususnya mengkaji peluang pendayagunaan teknologi GPS tersebut dan sumbangannya pada peningkatan perekonomian dan daya saing nasional. Organisasi profesi maupun konsultan teknik juga menggalang kerjasama masyarakat pengguna GPS di Indonesia serta memberikan feedback terhadap kemampuan tenaga ahli Indonesia dalam pengembangan aplikasi teknologi GPS.

NusaMap merupakan salah satu produk GPS yang paling menonjol dan merupakan karya orang Indonesia yang patut dibanggakan. NusaMap merupakan aplikasi peta digital yang canggih dan serba bisa. Untuk menggunakan NusaMap, diperlukan satu PDA PocketPC disertai satu perangkat GPS (Bluetooth GPS, atau CompactFlash GPS, atau GPS yang dilengkapi kabel serial ke PocketPC).

Peta digital NusaMap mencakup Jawa-Bali, yang meliputi berbagai kota besar seperti Bali, Bandung, Bekasi, Bogor, Cirebon, Denpasar, Depok, Jakarta, Kuta, Malang, Nusa Dua, Semarang, Singaraja, Surakarta, Surabaya, Tangerang, dan Yogyakarta. Di dalamnya terdapat pula informasi lokasi POI yang dikategorikan dalam kelompok, bandara, stasiun kereta api, terminal, pelabuhan, hotel dan resort, restoran, lokasi turisme, lapangan golf, pertokoan, pasar, pom bensin, kantor polisi, rumah sakit, kantor pos, gedung perkantoran, apartemen, wali kota, dan universitas.

Walaupun NusaMap dapat dipakai secara stand-alone untuk melihat-lihat peta, akan jauh lebih bermanfaat bila dipasangkan dengan perangkat GPS. Perangkat GPS membantu memplot secara real time posisi setiap saat pada peta NusaMap.

Salah satu fitur yang tampak sederhana, tetapi berimplikasi besar, adalah digunakannya standar ASCII atau plain text file untuk menyimpan data waypoint. Masalah klasik yang dihadapi pada perangkat GPS adalah mengelola data waypoint mengingat adanya keterbatasan memory dan kesulitan pencarian. Data NusaMap berbentuk plain text memudahkan kita untuk menyimpan dan kemudian menemukan kembali waypoint tertentu dengan menggunakan fasilitas Search di PocketPC maupun di PC. Informasi waypoint juga dapat di cut & paste untuk dikirim via SMS atau e-mail kepada yang membutuhkan.

Untuk penggunaan lebih advanced, NusaMap memberikan pula fasilitas remote tracking. Dengan memasang perangkat GPS+GSM pada kendaraan, pemakai NusaMap dapat mengirim SMS permohonan info lokasi ke kendaraan tersebut, yang akan langsung dijawab secara otomatis sehingga lokasi kendaraan dapat ditampilkan seketika pada peta digital NusaMap yang ada pada kita.
Selain itu, perusahaan Solo System mengeluarkan produk GPS yang dikemas oleh perusahaan multimedia Avix yang digunakan oleh sejumlah ATPM di Indonesia dan juga dimanfaatkan oleh industri seluler terkemuka di dunia, Nokia. Dimana pemilik perusahaan Solo System dan “otak” dari GPS ini tak lain adalah orang Indonesia, yaitu Arifin Effendy.

Aplikasi dari teknologi GPS di Indonesia meliputi, GPS potabel pada kendaraan bermotor, baik mobil maupun motor. Selain itu, banyak juga diaplikasikan dalam telepon genggam, baik pada produk GSM maupun CDMA. Selain sebagai penunjuk arah, GPS juga dapat berfungsi sebagai alat pelacak lokasi kendaraan yang dimanfaatkan oleh perusahaan jasa transportasi, taksi. Dimana salah satu perusahaan penggunanya adalah Blue Bird. Dengan bantuan GPS, perusahaan mampu menyelesaikan order lebih banyak daripada sebelumnya karena perusahaan mampu melacak taksi yang posisinya terdekat dengan lokasi pemesan.
Di Indonesia, teknologi GPS sebenarnya telah cukup lama diaplikasikan dalam sistem navigasi pesawat terbang. Dengan pengamatan GPS, maka informasi posisi 3D, kecepatan dan percepatan pesawat terbang dapat ditentukan secara teliti. Di samping itu GPS juga dapat digunakan sebagai sistem navigasi pesawat terbang pada saat survey dengan metode real time DGPS (Differential Global Positioning System). Penggunaan GPS ini juga diterapkan dalam kegiatan militer, berkaitan dengan pemantauan seluruh wilayah kekuasaan NKRI untuk menjaga pertahanan dan keamanan negara.

 

BAB III
Era GPS
1.1. GPS merupakan Era Telekomunikasi
Sejak dahulu kala, manusia telah mencoba untuk mencari tahu cara diandalkan untuk tahu di mana mereka berada, dan membimbing mereka ke mana mereka ingin pergi dan kembali lagi. Pelaut mengikuti garis pantai untuk menjaga mereka dari tersesat. Mereka menemukan, ketika mereka berlayar keluar ke laut terbuka, bahwa mereka bisa menggunakan posisi bintang-bintang untuk memetakan program mereka.

Perkembangan utama dalam navigasi awal adalah kompas dan sextant. Jarum kompas selalu menunjuk ke arah utara. Jadi, bahkan jika mereka tidak tahu di mana mereka berada, setidaknya mereka tahu ke arah mana mereka bepergian. Sekstan mengukur sudut yang tepat dari bintang, bulan dan matahari di atas cakrawala dengan menggunakan cermin disesuaikan. Sekstan awal hanya bisa mengukur garis lintang dan pelaut masih belum mampu bekerja keluar bujur mereka.

Karena ini bertekad untuk menjadi masalah yang cukup serius, pada abad ketujuh belas, Inggris membentuk sekelompok ilmuwan terkenal yang disebut Board of Longitude. Mereka menawarkan hadiah uang tunai yang cukup besar untuk setiap orang yang bisa menemukan cara untuk bekerja di luar garis bujur kapal dalam waktu tiga puluh mil laut. Pada tahun 1761, seorang pria bernama John Harrison mengembangkan arloji disebut kronometer a. Penemuan ini hilang atau diperoleh hanya sekitar satu hari detik. Sextants dan kronometer digunakan bersama-sama untuk menyediakan wisatawan dengan lintang dan bujur mereka.

Radio berbasis sistem navigasi yang dikembangkan pada awal abad kedua puluh, dan digunakan dalam Perang Dunia II. Karena teknologi canggih ini, baik kapal dan pesawat terbang yang digunakan tanah berbasis radio sistem navigasi. Kerugian dari menggunakan sistem yang menggunakan gelombang radio yang dihasilkan tanah, adalah bahwa pilihan harus dibuat antara sistem frekuensi tinggi yang akurat, namun tidak mencakup wilayah yang luas, dan sistem frekuensi rendah yang mencakup wilayah yang luas, tetapi tidak sangat akurat.

Ketika Sputnik diluncurkan ke ruang angkasa oleh Rusia pada tanggal 4 Oktober tahun 1957 menjadi diketahui bahwa “bintang buatan” dapat digunakan untuk navigasi. Malam setelah peneliti peluncuran dari Massachusetts Institute of Technology menentukan orbit satelit Rusia dengan mencatat bahwa sinyal radio Sputnik meningkat saat mendekati dan menurun saat meninggalkan. Jadi fakta bahwa posisi satelit dapat dilacak dari tanah adalah langkah pertama dalam mengakui bahwa keberadaan subjek di tanah dapat ditentukan dengan menggunakan sinyal radio dari satelit.

Angkatan Laut Amerika Serikat bereksperimen dengan navigasi satelit. Pada pertengahan enam puluhan ada Sistem Transit yang dikembangkan untuk kapal selam yang membawa rudal nuklir Polaris. Sistem ini memiliki enam satelit yang mengitari bumi dalam orbit kutub. Dalam mengukur pergeseran Doppler dari sinyal radio kapal selam bisa menemukan posisinya dalam lima belas menit.

Global Positioning System, GPS sekarang dikenal dirancang dan dibangun dan dioperasikan dan dipelihara oleh Departemen Pertahanan AS. Dulu dikenal sebagai Positioning System Navstar Global dan pertama kali brainstorming di Pentagon pada tahun 1973 ketika mereka sedang mencari sistem satelit yang error-bukti. Pada tahun 1978 operasional pertama GPS satelit diluncurkan. Pada pertengahan 1990-an sistem itu beroperasi penuh dengan 24 satelit.

1.2. Perkembangan Pemetaan Zaman Dahulu Dan Saat Ini
Teknologi pemetaan yang ada dahulu amat berbeda dengan yang ada pada masa kini. Jika kita beranjak keluar dari masa Idrisi dan Gerardus Mercator (pada masa dimana alat ukur teodolit sudah ada), maka akan terlihat perbedaan mencolok antara keduanya. Dahulu, dengan menggunakan teodolit, sorang juru ukur melakukan pengukuran suatu area dengan terjun langsung menembus belantara yang ganas sehingga untuk menghasilkan peta memerlukan waktu yang cukup lama. Belanda yang dahulu pernah menjajah Negara kita adalah sedikit dari salah satu para jago dalam hal teknologi pemetaan pada saat itu.
Kita pun beruntung karena peninggalan titik kontrol peta masih ada dan bahkan dipakai juga oleh kita hingga kini. Selain melakukan pengukuran triangulasi dari titik-titik kontrol yang sudah ditentukan, para juru ukur juga harus melakukan pemetaan garis kontur, toponimi, jalan, sungai, serta kondisi permukiman pada saat itu. Tak terbayang juga berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan selembar peta yang sudah jadi. Sehingga tak heran jika peta yang dihasilkan adalah informasi yang sangat berharga karena memuat informasi keadaan alam yang ada pada saat itu. Saat ini dengan berkembangnya teknologi pemetaan seperti GPS tentunya mempercepat proses dalam proses pembuatan peta dengan ketelitian yang tak jauh beda jika dikerjakan dengan cara manual.
Teknik pemetaan pun beralih, dari teknologi intip-intip melalui teodolit menuju teknologi pencet-pencet melalu alat GPS. Saat ini teknologi GPS untuk keperliuan navigasi sudah menghasilkan ketelitian hingga 5 meter sedangkan untuk geodetic bahkan mencapai tingkat ketelitian hingga sentimeter. Konon, sistem GPS militer milik Amerika sudah memiliki tingkat ketelitian hingga millimeter namun tertutup dan rahasia. Sistem dulu dan sekarang Antara pemetaan dahulu dan sekarang, sama-sama memuat informasi geografis.
Yang membedakan adalah sistemnya. Dahulu data-data peta disimpan secara manual hingga berlembar-lembar banyaknya. Selain memenuhi ruangan, lembaran peta pun berpotensi rusak karena pengaruh cuaca atau lapuk karena umur. Berbeda dengan saat ini dimana informasi peta disimpan dalam format digital atau terkomputerisasi. Jika kita melakukan perbandingan waktu untuk melakukan reproduksi peta masa lalu dengan masa kini maka akan didapat perbedaan waktu yang signifikan prosesnya. Produksi peta yang sudah tersimpat dalam sistem komputer akan memungkinkan reproduksi dan manipulasi peta berjalan jauh lebih cepat dibandingkan dengan cara manual.
Sistem Informasi Geografis (SIG) atau GIS (Geographical Information System) inilah yang menjadi basis sistem dalam pengelolaan data geografis yang mencakup penyimpanan, pengolahan, manipulasi, dan pengeluaran dalam bentuk peta yang tersusun dalam sistem berbasis komputer. Saat ini teknologi GIS yang juga kerap disandingkan bersamaan dengan Remote Sensing, amat pesat perkembangannya antara lain karena sifatnya yang multi guna di berbagai bidang (multisiplin). GIS bisa menjamah bidang-bidang seperti militer, pertanian, kehutanan, kependudukan, perkebunan, arkeologi, kesehatan, dan masih banyak lagi bidang yang lain.

 
BAB IV
Penutup
Kesimpulan
Banyak beberapa orang yang belum mengetahui Apa itu Gps dan Apa fungsi dari Gps tersebut ? gps adalah singkatan dari Global positioning system. yang pada mulanya jaringan gps hanya digunakan untuk militer, tetapi dalam tahun 80 an pemerintah Amerika Serikat memberikan wewnang kepada masyarakat umum untuk menggunakannya juga. dan hingga kini telah tersebar di seluruh dunia untuk menggunakan jaringan Gps. pada mulanya ada 3 unsur yang membuat pekerjaan semuanya: satelit,stasiun pemantauan bumi dan penerima seperti telepon, ponsel, cellular.
Gps memberikan sinyal satelit kode khusus yang dapat di proses dalam penerima gps dan memungkinkan penerima untuk menghitung posisi, kecepatan dan juga waktu saat ini. Kemampuan pelacakan pengguna ponsel menjadi penting disaat darurat seperti pada saat mobil kecekaan .. melalui penggunaan 911 panggilan telepon darurat, dalam situasi saat ini GPS menjadi penentu dan GPS dapat menetukan lokasi yang tepat pada lokasi kecelakaan tersebut terjadi.

 

 

 

 

 

 

 

Referensi

http://beritartikel.blogspot.com/2012/12/sejarah-gps-navigasi.html
http://ceritaanaknegri.blogspot.com/2012/07/fungsi-pengertian-gps-dan-sejarah-gps.html
http://outminds.blogspot.com/2009/10/sejarah-penemuan-global-positioning.html
http://batalion-it.blogspot.com/2012/11/sejarah-munculnya-gps.html

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tahapan Penelitian Survey

1. TAHAPAN PENELITIAN SURVEY
Mengidentifikasi dan Merumuskan Masalah
Sebagaimana halnya dalam metode ilmiah, pada penelitian ilmiah juga harus berangkat dari adanya permasalahan yang ingin pecahkan. Sebelum melaksanakan penelitian ilmiah perlu dilakukan identifikasi masalah. Proses identifikasi masalah penting dilakukan agar rumusan masalah menjadi tajam dan sebagai bentuk data awal bahwa dalam penelitian ilmiah tersebut memang dibutuhkan pemecahan masalah melalui penelitian. Identifikasi masalah dirumuskan bersesuaian sebagaimana latar belakang masalah, berdasarkan fakta dan data yang ada di lapangan. Identifikasi masalah pada umumnya dirumuskan dalam bentuk kalimat deklaratif, sementara rumusan masalah ditulis dalam bentuk kalimat tanya (berbentuk pertanyaan).
Banyaknya masalah tersebut dapat berasal dari berbagai sumber yaitu:
1. Bacaan, terutama bacaan yang berisi laporan hasil penelitian.
2. Seminar, diskusi dan lain-lain pertemuan ilmiah, karena dalam pertemuan-pertemuan semacam itu para peserta dapat menghayati berbagai masalah sesuai dengan bidang ilmunya masing-masing. Langkah-langkah tersebut merupakan kesimpulan penulisan dari sumber: 1). Dirjen Perguruan Tinggi Debdikbud, Metodologi Penelitian, halaman 42 – 66 2). Sitrisno Hadi, Metodologi research 1 hal. 8-9.
3. Pernyataan Pemegang Otoritas, baik pemimpin pemerintah maupun pemimpin bidang ilmu tertentu dapat menjadi sumber penelitian.misalnya presiden mengatakan: “kumpul kebo” harus diberantas sebab tidak sesuai dengan kepribadian bangsa, merupaka sumber masalah-masalah untuk penelitian baru.
4. Pengamatan sepintas, dalam suatu perjalanan atau pennjauan tertentu orang dapat menemukan maasalah-masalah yang dipatut diteliti tetapi tidak direncanakan dari rumah waktu berangkat. Misalnya mencium bau yang tidak enak dan pemukiman yang tidak teraturdi daerah industry, teerlihat banyak anak-anak atau berkelainan, timbul keinginan untuk meneliti: kesehatan lingkungan, kesehatan masyarakat dan sebagainya.
5. Pengalaman pribadi, dalam ilmu-ilmu sosial pengalaman pribadi telah sering mngandung masalah yang berkaitan erat sejarah perkembangan kehidupan.

 

Melakukan Studi Pendahuluan
Di dalam penelitian ilmiah, perlu dilakukan sebuah studi pendahuluan. Peneliti dapat melakukannya dengan menelusuri dan memahami kajian pustaka untuk bahan penyusun landasan teori yang dibutuhkan untuk menyusun hipotesis maupun pembahasan hasil penelitian nantinya. Sebuah penelitian dikatakan bagus apabila didasarkan pada landasan teori yang kukuh dan relevan. Banyak teori yang bersesuaian dengan penelitian, namun ternyata kurang relevan. Oleh karenanya, perlu dilakukan usaha memilah-milah teori yang sesuai. Selain itu studi pendahuluan yang dilakukan peneliti melalui pengkajian kepustakaan akan dapat membuat penelitian lebih fokus pada masalah yang diteliti sehingga dapat memudahkan penentuan data apa yang nantinya akan dibutuhkan.
Merumuskan Hipotesis
Hipotesis perlu dirumuskan dalam sebuah penelitian ilmiah, lebih-lebih penelitian kuantitatif. Dengan menyatakan hipotesis, maka penelitian ilmiah yang dilakukan peneliti akan lebih fokus terhadap masalah yang diangkat. Selain itu dengan rumusan hipotesis, seorang peneliti tidak perlu lagi direpotkan dengan data-data yang seharusnya tidak dibutuhkannya, karena data yang diambilnya melalui instrumen penelitian hanyalah data-data yang berkaitan langsung dengan hipotesis. Data-data ini sajalah yang nantinya akan dianalisis. Hipotesis erat kaitannya dengan anggapan dasar. Anggapan dasar merupakan kesimpulan yang kebenarannya mutlak sehingga ketika seseorang membaca suatu anggapan dasar, tidak lagi meragukan kebenarannya.
Mengidentifikasi Variabel dan Definisi Operasional Variabel
Sebuah variabel dalam penelitian ilmiah adalah fenomena yang akan atau tidak akan terjadi sebagai akibat adanya fenomena lain. Variabel penelitian sangat perlu ditentukan agar masalah yang diangkat dalam sebuah penelitian ilmiah menjadi jelas dan terukur. Dalam tahap selanjutnya, setelah variabel penelitian ditentukan, maka peneliti perlu membuat definisi operasional variabel itu sesuai dengan maksud atau tujuan penelitian. Definisi operasional variabel adalah definisi khusus yang dirumuskan sendiri oleh peneliti. Definisi operasional tidak sama dengan definisi konseptual yang didasarkan pada teori tertentu.
Menentukan Rancangan atau Desain Penelitian
Rancangan penelitian sering pula disebut sebagai desain penelitian. Rancangan penelitian merupakan prosedur atau langkah-langkah aplikatif penelitian yang berguna sebagai pedoman dalam melaksanakan penelitian ilmiah bagi si peneliti yang bersangkutan. Rancangan penelitian harus ditetapkan secara terbuka sehingga orang lain dapat mengulang prosedur yang dilakukan untuk membuktikan kebenaran penelitian ilmiah yang telah dilakukan peneliti.
Menentukan dan Mengembangkan Instrumen Penelitian
Apakah yang dimaksud dengan instrumen penelitian? Instrumen penelitian merupakan alat yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data yang dibutuhkannya. Beragam alat dan teknik pengumpulan data yang dapat dipilih sesuai dengan tujuan dan jenis penelitian ilmiah yang dilakukan. Setiap bentuk dan jenis instrumen penelitian memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Karena itu sebelum menentukan dan mengembangkan instrumen penelitian, perlu dilakukan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Salah satu kriteria pertimbangan yang dapat dipakai untuk menentukan instrumen penelitian adalah kesesuaiannya dengan masalah penelitian yang ingin dipecahkan. Tidak semua alat atau instrumen pengumpul data cocok digunakan untuk penelitian-penelitian tertentu.
Menentukan Subjek Penelitian
Orang yang terlibat dalam penelitian ilmiah dan berperan sebagai sumber data disebut subjek penelitian. Seringkali subjek penelitian berkaitan dengan populasi dan sampel penelitian. Apabila penelitian ilmiah yang dilakukan menggunakan sampel penelitian dalam sebuah populasi penelitian, maka peneliti harus berhati-hati dalam menentukannya. Hal ini dikarenakan, penelitian yang menggunakan sampel sebagai subjek penelitian akan menyimpulkan hasil penelitian yang berlaku umum terhadap seluruh populasi, walaupun data yang diambil hanya merupakan sampel yang jumlah jauh lebih kecil dari populasi penelitian. Pengambilan sampel penelitian yang salah akan mengarahkan peneliti kepada kesimpulan yang salah pula.Sampel yang dipilih harus merepsentasikan populasi penelitian.
Melaksanakan Penelitian
Pelaksanaan penelitian adalah proses pengumpulan data sesuai dengan desain atau rancangan penelitian yang telah dibuat. Pelaksanaan penelitian harus dilakukan secara cermat dan hati-hati karena kan berhubungan dengan data yang dikumpulkan, keabsahan dan kebenaran data penelitian tentu saja akan menentukan kualitas penelitian yang dilakukan.Seringkali peneliti saat berada di lapangan dalam melaksanakan penelitiannya terkecoh oleh beragam data yang sekilas semuanya tampak penting dan berharga. Peneliti harus fokus pada pemecahan masalah yang telah dirumuskannya dengan mengacu pengambilan data berdasarkan instrumen penelitian yang telah dibuatnya secara ketat. Berdasarkan cara pengambilan data terhadap subjek penelitian, data dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu data langsung dan data tidak langsung. Data langsung adalah data yang diperoleh secara langsung oleh peneliti dari sumber data (subjek penelitian), sementara data tidak langsung adalah data yang diperoleh peneliti tanpa berhubungan secara langsung dengan subjek penelitian yaitu melalui penggunaan media tertentu misalnya wawancara menggunakan telepon, dan sebagainya.
Melakukan Analisis Data
Beragam data yang terkumpul saat peneliti melaksanakan penelitian ilmiahnya tidak akan mempunyai kana apapun sebelum dilakukan analisis. Ada beragam alat yang dapat digunakan untuk melakukan analisis data, bergantung pada jenis data itu sendiri. Bila penelitian ilmiah yang dilakukan bersifat kuantitatif, maka jenis data akan bersifat kuantitatif juga. Bila penelitian bersifat kualitatif, maka data yang diperoleh akan bersifat kualitatif dan selanjutnya perlu diolah menjadi data kuantitatif. Untuk itu perlu digunakan statistik dalam pengolahan dan analisis data.
Merumuskan Hasil Penelitian dan Pembahasan
Pada hakekatnya merumuskan hasil penelitian dan melakukan pembahasan adalah kegiatan menjawab pertanyaan atau rumusan masalah penelitian, sesuai dengan hasil analisis data yang telah dilakukan. Pada saat melakukan pembahasan, berarti peneliti melakukan interpretasi dan diskusi hasil penelitian.Hasil penelitian dan pemabahasannya merupakan inti dari sebuah penelitian ilmiah.Pada penelitian ilmiah dengan pengajuan hipotesis, maka pada langkah inilah hipotesis itu dinyatakan diterima atau ditolak dan dibahas mengapa diterima atau ditolak. Bila hasil penelitian mendukung atau menolak suatu prinsip atau teori, maka dibahas pula mengapa demikian. Pembahasan penelitian harus dikembalikan kepada teori yang menjadi sandaran penelitian ilmiah yang telah dilakukan.
Menyusun Laporan Penelitian dan Melakukan Desiminasi
Seorang peneliti yang telah melakukan penelitian ilmiah wajib menyusun laporan hasil penelitiannya. Penyusunan laporan dan desiminasi hasil penelitian merupakan langkah terakhir dalam pelaksanaan penelitian ilmiah. Format laporan ilmiah seringkali telah dibakukan berdasarkan institusi atau pemberi sponsor di mana penelitia itu melakukannya. Desiminasi dapat dilakukan dalam bentuk seminar atau menuliskannya dalam jurnal-jurnal penelitian. Ini penting dilakukan agar hasil penelitian diketahui oleh masyarakat luas (masyarakat ilmiah) dan dapat dipergunakan bila diperlukan.
Yang harus diperhatikan dalam laporan penelitian adalah sistematiknya harus dipenuhi. Pada garis besarnya sistematika laporan penelitiannya adalah:
1. bagian awal yang berisi:
a. Halaman judul
b. Halaman pendahuluan
c. Halaman Daftar Isi
d. Halaman Daftar Tabel(kalau ada)
e. Halaman Daftar Gambar (kalau ada)
f. Halaman Daftar Lampiran (kalau ada)
2. Bagian Inti berisi:
a. Latar Belakang Masalah
b. Tujuan Penelitian
c. Landasan Teori/telaah pustaka
d. Hipotesis (kalau ada)
e. Metodologi
f. Hasil
g. Interprestasi, kesimpulan dan Saran
3. Bagian Akhir yang berisi:
a. Daftar Pustaka
b. Lampiran-lampiran (jika ada)

sumber: Narboku dan achmadi.2005. Metode Penelitian, Jakarta: PT. Bumi Aksara. Hal.57-67
Mahsun, Metode Penelitian Bahasa, Jakarta: PT. Raja Grafindo Pesada. Hal 38.

Hariwijaya dan Triton P.B. 2007. Teknik Penulisan Skripsi dan Tesis. Oryza. Yogyakarta.

 

 

 

 

 

2. penjelasan proses mengidentifikasi dan merumuskan masalah.
Penelitian berangkat dari masalah karena penelitian bertujuan untuk memecahkan masalah. Penelitian yang sistematis diawali dengan suatu persoalan. John Dewey menyatakan bahwa langkah pertama dalam suatu metode ilmiah adalah pengakuan adanya kesulitan, hambatan atau masalah yang membingungkan peneliti (Ary, Jacobs, dan Razavieh, 1982: 73). Ibarat sebuah tanya jawab, masalah merupakan pertanyaan yang jawabannya akan dicari dalam proses penelitian. Meneliti adalah usaha mendapatkan jawaban dari masalah yang dihadapi.
Manusia memiliki rasa ingin tahu, sehingga selalu mencari tahu apa yang tidak diketahuinya. Masalah mencerminkan ketidaktahuan. Penelitian merupakan usaha manusia mengusahakan ketidaktahuan dapat berubah menjadi pengetahuan. Pengetahuan yang diperoleh melalui kegiatan penelitian akan mempersempit wilayah ketidaktahuan karena sudah menjadi pengetahuan manusia.
Kedudukan masalah dalam penelitian sangat penting. Pemecahan masalah setengahnya ditentukan oleh kebenaran dalam perumusan masalahnya. Tidak dapat diharapkan pemecahan masalah dari pertanyaan yang salah. Pertanyaan masalah akan menentukan metode penelitian, cara pengumpulan data jenis data dan teknik analisis data yang akan digunakan. Untuk itu bagian ini dibahas mengenai masalah dan perumusannya dalam penelitian.

1. Sumber masalah

Masalah dapat berasal dari berbagai sumber. Menurut James H. MacMillan dan Schumacher (Hadjar, 1996: 40-42), masalah dapat bersumber dari observasi, dedukasi dari teori, ulasan kepustakaan, masalah sosial yang sedang terjadi, situasi praktis dan pengalaman pribadi. Masing-masing dapat dijelaskan sebagai berikut:

1) Observasi
Observasi merupakan sumber yang kaya masalah penelitian. Kebanyakan keputusan praktis didasarkan atas praduga tanpa didukung oleh data empiris. Masalah penelitian dapat diangkat dari hasil observasi terhadap hubungan tertentu yang belum mempunyai dasar penjelasan yang memadai dan cara-cara rutin yang dalam melakukan suatu tindakan didasarkan atas otiritas atau tradisi. Penyelidikan mungkin menghasilkan teori baru, rekomendasi pemecahan masalah praktis dan mengidentifikasi variabel yang belum ada dalam bahasan litelatur.
2) Dedukasi dari teori
Teori merupakan konsep-konsep yang masih berupa prinsir-prinsip umum yang penerapannya belum dapat diketahui selama belum diuji secara empiris. Penyelidikan terhadap masalah yang diangkap dari teori berguna untuk mendapatkan penjelasan empiris praktik tentang teori.
3) Kepustakaan
Hasil penelitian mungkin memberikan rekomendasi perlunya dilakukan penelitian ulang (replikasi) baik dengan atau tanpa variasi. Replikasi dapat meningkatkan validitas hasil penelitian dan kemampuan untuk digeneralisasikan lebih luas. Laporan penelitian sering juga menyampaikan rekomendasi kepada peneliti lain tentang apa yang perlu diteliti lebih lanjut. Hal ini juga menjadi sumber untuk menentukan masalah yang menentukan masalah yang perlu diangkat untuk diteliti.
4) Masalah sosial
Masalah sosial dapat pula menjadi sumber masalah penelitian. Misalnya: seringnya menjadi perkelahian siswa antar sekolah dapat memunculkan pertanyaan tentang efektivitas pelaksanaan pendidikan moral dan agama serta pembinaan sikap disiplin. Banyaknya pengangguran lulusan perguruan tinggi menimbulkan pertanyaan tentang kesesuaian kurikulum dengan kebutuhan masyarakat.
5) Situasi praktis
Dalam pembuatan keputusan tertentu, sering mendesak untuk dilakukan penelitian evaluatif. Hasil sangat diperlukan untuk dijadikan dasar pembuatan keputusan lebih lanjut.
6) Pengalaman pribadi
Pengalaman pribadi dapat memunculkan masalah yang memerlukan jawaban empiris untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam.(Purwanto, M.pd:109-111)

Menurut Suryabrata (1994:61-63), sumber-sumber masalah yang dapat diidentifikasi meliputi:
1) Bacaan terutama hasil penelitian
Rekomendasi untuk penelitian lebih lanjut dapat menjadi sumber identifikasi masalah. Tidak pernah ada penelitian yang tuntas. Penelitian selalu menampilkan masalah yang lebih banyak dari pada yang dijawabnya, karena dengan demikian ilmu pengetahuan selalu mengalami kemajuan.
2) Diskusi, seminar, pertemuan ilmiah
Diskusi, seminar dan pertemuan ilmiah dapat menjadi sumber masalah penelitian karena para peserta dapat melihat hal-hal yang dipersoalkan secara profesional sehingga muncul masalah.
3) Pernyataan pemegang otoritas (dalam pemerintahan dan ilmu pengetahuan).
Pernyataan pemegang otoritas dapat menjadi sumber masalah, baik otoritas pemerintahan maupun ilmu pengetahuan. Contoh pernyataan pemegang otoritas pemerintahan adalah pernyataan menteri pendidikan mengenai daya serap siswa SMU. Contoh pernyataan otoritas ilmu pengetahuan adalah pernyataan ahli pendidikan mengenai penjurusan di SMU.
4) Pengamatan sepintas
Pengamatan sepintas dapat menjadi sumber masalah. Misalnya, ahli kesehatan menemukan masalah ketika menyaksikan dari mana penduduk mendapatkan air minum.
5) Pengalaman pribadi
Pengalaman pribadi sebagai sumber masalah penelitian berkaitan dengan sejarah perkembangan dan kehidupan dengan sejatah perkembangan dan kehidupan pribadi atau profesional. (Purwanto, M. Pd: 111-112 )

2. Ruang Lingkup Masalah
Ruang lingkup masalah merupakan hal yang sangat penting untuk ditentukan terlebih dahulu sebelum sampai pada tahap pembahasan selanjutnya. Agar pembahasan masalah lebih terarah maka penulis memberikan batasan permasalahan pada penelitian ini. Adapun batasan masalah tersebut adalah :
1. Pada penelitian ini , hanya membahas masalah – masalah yang berhubungan dengan proses pada bagian surat masuk dan surat keluar .
2. Data – data yang di analisa adalah data surat masuk dan keluar yang meliputi data Wajib , dan petugas atau karyawan dinas , dan nantinya akan menghasilkan laporan surat masuk dan surat keluar .

 

3. Untuk mengukur suatu variabel dalam rumusan masalah penelitian, dibutuhkan skala pengukuran

Jenis-jenis sekala pengukuran ada empat : sekala nominal, sekala ordinal, sekala interval, dan sekala ratio.
1. Sekala nominal
Sekala nominal adalah sekala yang paling sederhana, disusun menurut jenis (kategorinya) atau fungsi bilangan hanya sebagai symbol untuk membedakan sebuah karakteristik dengan karakteristik yang lainnya.
Sekala nominal adalah sekala yang hanya mendasarkan pada pengelompokkan atau pengkategorian peristiwa atau fakta dan apabila menggunakan notasi angka hal itu sama sekali tidak menunjukkan perbedaan kuantitatif tetapi hanya menunjukkan perbedaan kualitatif. Adapaun ciri-ciri dari sekala nominal adalah:
a. Kategori data bersifat mutually exclusive (salign memisah).
b. Kategori data tidak mempunyai aturan yang logis (bisa sembarang), Hasil perhitungan dan tidak ditemui bilangan pecahan, Angka yang tertera hanya lebel semata.Tidak mempunyai ukuran baru, Dan tidak mempunyai nol mutlak.

2. Skala ordinal
Sekala ini adalah pengukuran yang mana sekala yang digunakan disusun secara runtut dari yang rendah sampai yang tinggi. Sekala ordinal sekala yang diurutkan dari jenjang yang lebih tinggi sampai sekala yang terendah atau sebaliknya.
Adapun ciri-ciri dari sekala ordinal antara lain : kategori data saling memisah, kategori data memiliki aturan yang logis, kategori data ditentukan sekala berdasarkan jumlah karakteristik khusus yang dimilikinya.
3. Skala interval
Sekala interval adalah sekala yang menunjukkan jarak satu data dengan data yang lain dengan bobot nilai yang sama, sementara menurut (Uhar) dalam bukunya, metodologi penelitian kuantitatif, kualitatif, dan tindakan. Menjelaskan bahwa sekala interval adalah sekala pengukuran yang mana jarak satu tingkat dengan yang lain sama. Ciri-ciri dari sekala ini menurut uhara ada lima :
1. Kategori data bersifat saling memisah.
2. Kategori data memiliki aturan yang logis.
3. Kategori data ditentukan sekalanya berdasarkan jumlah karaaktristik khusus yang dimilikinya.
4. Perbedaan karakteristik yang sama tergambar dalam perbedaan yang sama dalam jumlah yang dikenakan pada kategori.
5. Angka nol hanya menggambarkan satu titik dalam sekala (tidak punya nilai nol absolut).

4. Sekala rasio.
Skala ini adalah sekala interval yang benar-benar memiliki nilai nol mutlak. Dengan demikian sekala rasio menunjukkan jenis pengukuran yang sangat jelas dan akurat.

4. kaitan Pustaka
Kajian pustaka merupakan daftar referensi dari semua jenis referensi seperti buku, jurnal papers, artikel, disertasi, tesis, skripsi, hand outs, laboratory manuals, dan karya ilmiah lainnya yang dikutip di dalam penulisan proposal. Semua referensi yang tertulis dalam kajian pustaka harus dirujuk di dalam skripsi. Referensi ditulis urut menurut abjad huruf awal dari nama akhir/keluarga penulis pertama dan tahun penerbitan (yang terbaru ditulis lebih dahulu).
Dalam Penelitian biasanya diawali dengan ide-ide atau gagasan dan konsep-konsep yang dihubungkan satu sama lain melalui hipotesis tentang hubungan yang diharapkan. Ide-ide dan konsep-konsep untuk penelitian dapat bersumber dari gagasan peneliti sendiri dan dapat juga bersumber dari sejumlah kumpulan pengetahuan hasil kerja sebelumnya yang kita kenal juga sebagai literatur atau pustaka. Literatur atau bahan pustaka ini kemudian kita jadikan sebagai r Kajian pustaka: menjelaskan laporan tentang apa yang telah ditemukan oleh peneliti lain atau membahas masalah penelitian. Kajian penting yang berkaitan dengan masalah biasanya dibahas sebagai subtopik yang lebih rinci agar lebih mudah dibaca. Bagian yang kurang penting biasanya dibahas secara singkat. Bila ada beberapa hasil penelitian yang mirip dengan masalah penelitian, maka dapat dituliskan: ”Beberapa penelitian juga telah dilaporkan dengan hasil yang hampir sama (Adam, 1976;Brown, 1980; Cartwright, 1981; Davis, 1985; Frost, 1987)”
Kajian pustaka adalah kegiatan yang meliputi mencari, membaca, dan menelaah laporan-laporan penelitian dan bahan pustaka yang memuat teori-teori yang relevan dengan penelitian yang akan dilakukan.
5. Kebaruan
Kebaruan (novelty) atau kekinian (al-ashriyah) merupakan tolok ukur dalam penilaian proses penelitian. Titik capaian penemuan kebaruan tidak serta merta didapatkan begitu saja, namun melalui serangkaian tahapan yang boleh dibilang tidak berjalan secara serial. Seringkali bahkan harus melalui proses melingkar, memutar, dan mencoba alternatif jalan yang mungkin tampak secercah harapan akan kebaruan itu di ujung jalan.
Kesulitan dalam memberikan jawaban terhadap persoalan kebaruan mudah dimengerti karena umumnya penelitian-penelitian yang dilakukan tidak terkait dengan penelitian sebelumnya. Penelitian yang satu terlepas dari penelitian yang lainnya seolah penelitian yang sudah dilakukan tidak memiliki tempat untuk dilanjutkan atau diteliti kembali. Lebih dari itu penelitian-penelitian yang dilakukan belum memiliki definisi persoalan yang akan dicari solusinya sehingga kontribusi hasil penelitian yang diperoleh tidak dapat ditunjukkan. Ketidakjelasan definisi persoalan yang dihadapi yang akan dicari solusinya merupakan faktor kesulitan utama dalam mendeskripsikan kebaruan dari peneiitian yang dilakukan.

Adanya kebaruan dapat dikatakan sebagai salah satu kriteria yang harus dipenuhi – atau sesuatu yang harus mampu ditunjukkan oleh sebuah penelitian agar penelitian itu menghasilkan temuan yang bernilai atau bermanfaat (bagi pengembangan agroindustri). Oleh karena itu setiap penelitian yang dilakukan haruslah memiliki landasan yang kuat untuk menyandarkan kebaruan yang dihasilkan.

Salah satu event yang dapat dijadikan landasan umtuk menunjukkan kebaruan hasil suatu penelitian adalah fenomena yang terjadi atau persoalan yang dihadapi oleh suatu agroindustri. Dalam hai ini fenomena atau persoalan vang dihadapi haruslah fenomena atau persoalan yang bersifat krusial, yaitu fenomena atau persoalan yang diyakini seoagai sesuatu yang sulit yang solusinya hanya dapat dicari (solved) melalui kegiatan ilmiah secara sistematis yang bernama penelitian (research).

6. Perumusan Masalah
Rumusan masalah berbeda dengan masalah. Kalau masalah itu berupa kesenjangan antara yang diharapkan dengan apa yang terjadi, maka rumusan masalah itu merupakan suatu pertanyaan yang akan dicarikan jawabannya melalui pengumpulan data
Ada beberapa para ahli mendefinisikan tentang rumusan masalah, diantaranya:
• Menurut Pariata Westra (1981 : 263 ) bahwa “Suatu masalah yang terjadi apabila seseorang berusaha mencoba suatu tujuan atau percobaannya yang pertama untuk mencapai tujuan itu hingga berhasil.”
• Menurut Sutrisno Hadi ( 1973 : 3 ) “Masalah adalah kejadian yang menimbulkan pertanyaan kenapa dan kenapa.
Perumusan masalah merupakan salah satu tahap di antara sejumlah tahap penelitian yang memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kegiatan penelitian. Tanpa perumusan masalah, suatu kegiatan penelitian akan menjadi sia-sia dan bahkan tidak akan membuahkan hasil apa-apa.
Perumusan masalah atau research questions atau disebut juga sebagai research problem, diartikan sebagai suatu rumusan yang mempertanyakan suatu fenomena, baik dalam kedudukannya sebagai fenomena mandiri, maupun dalam kedudukannya sebagai fenomena yang saling terkait di antara fenomena yang satu dengan yang lainnya, baik sebagai penyebab maupun sebagai akibat.
Rumusan masalah itu merupakan suatu pertanyaan yang akan dicarikan jawabannya melalui pengumpulan data bentuk-bentuk rumusan masalah penelitian ini berdasarkan penelitian menurut tingkat eksplanasi.
Rumusan masalah ini pada hakikatnya adalah deskriptip tentang ruang lingkup masalah, pembatasan dimensi dan analisis variabel yang tercakup didalamnya. Dengan demikian rumusan masalah tersebut sekaligus menunjukkan fokus pengamatan di dalam proses penelitian nantinya.
Bentuk masalah dapat dikelompokkan kedalam bentuk masalah deskriptif, komparatif, asosiatif
a. Rumusan Masalah Deskriptif
Rumusan masalah deskriptif adalah suatu rumusan masalah yang berkenaan dengan pertanyaan terhadap keberadaan variabel mandiri, baik hanya pada satu variabel atau lebih.
b. Rumusan Masalah Komparatif
Rumusan masalah komparatif adalah rumusan masalah penelitian yang membandingkan keberadaan satu variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda, atau pada waktu yang berbeda.
c. Rumusan Masalah Asosiatif
Rumusan masalah asosiatif adalah rumusan masalah penelitian yang bersifat menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam perumusan masalah yaitu:
1. Dirumuskan secara jelas
2. Menggunakan kalimat tanya dengan mengajukan alternaatif tindakan yang akan dilakukan
3. Dapat diuji secara empiris
4. Menggandung deskripsi tentang kenyataan yang ada dan keadaan yang diinginkan
5. Disusun dalam bahasa yang jelas dan singkat
6. Jelas cangkupannya
7. Memungkinkan untuk dijawab dengan mempergunakan metode atau teknik tertentu

 

Sumber:
Hariwijaya dan Triton P.B. 2007. Teknik Penulisan Skripsi dan Tesis. Oryza. Yogyakarta.
Mahsun, Metode Penelitian Bahasa, Jakarta: PT. Raja Grafindo Pesada. Hal 38.

 

MERASUL KE DANAU KOTO PANJANG

IMG_3474m Keinginan untuk selalu melayani dan membimbing Bina Iman Anak (BIA) masih dirasakan oleh kaum muda, khususnya Orang Muda Katolik (OMK) Stasi St.Paulus Pekanabru. Sebanyak lima orang OMK, yang juga merupakan guru BIA, sepakat untuk turut mengikuti kunjungan ke stasi paling jauh, yaitu stasi St. Antonius, Danau Koto Panjang, Kabupaten Kampar (12/3) bersama dengan Fr. Yudi dan P.Franco yang pada waktu itu bertugas memimpin perayaan Ekaristi di stasi tersebut.
Keberangkatan dilakukan pada pukul 07.30 wib dari Pastoran Paroki yang diawali dengan doa terlebih dahulu. Perjalanan ditempuh kurang lebih 2 jam melalui jalur darat. Kemudian dilanjutkan melalui jalur air dengan menggunakan perahu selama 45 menit. Itulah satu-satunya sarana transportasi yang bisa digunakan, sebab wilayah stasi yang umatnya berjumlah kurang lebih 20 kk ini di kelilingi oleh danau buatan yang merupakan salah satu daerah pembangkit tenaga listrik air (PLTA). Walaupun kondisi cuaca yang pada saat itu berkategorikan berbahaya, dikarenakan asap akibat kebakaran yang melanda Riau semakin menebal, hal ini tidak meyurutkan langkah para OMK yang merasakan dirinya pada saat itu sebagai seorang ‘misionaris’.
Kedatangan rombongan disambut sangat antusias oleh umat stasi tersebut. Tampak anak-anak bina iman sudah tidak sabar untuk berbagi kegembiraan bersama. Kegiatan untuk BIA dilakukan di luar gedung gereja tepatnya beberapa meter di depan gedung gereja yang baru , dengan tujuan agar anak-anak dapat menikmati suasana baru dan para orang tua dapat mengikuti dengan khidmat perayaan Ekaristi yang pada saat itu di awali dengan sakramen pengakuan dosa. Dengan beralaskan tikar di bawah kerindangan pepohonan, sebanyak 25 anak-anak mengikuti ibadat bina iman yang di bawakan para OMK yang didampingi oleh Fr. Yudi.
Perasaan bahagia menyelimuti anak-anak dalam kegiatan tersebut. Mulai dari bernyanyi bersama, melakukan permainan untuk menjalin keakraban, serta berbagi cerita pengalaman. Tidak lupa juga para OMK mengajak anak-anak untuk mengenal Yesus dan kebijaksanaannya melalui cerita dongeng yang di bawakan oleh Sdr. Andreas. “Daya tangkap imajinasi dan keterlibatan adik-adik di stasi ini sangat luar biasa. Saya sangat terharu, walaupun dengan berbagai kepolosan dan kesederhanaan, mereka mau untuk mengenal hal-hal baru. Rasa lelah pun tidak saya rasakan lagi setelah melihat keceriaan dari anak-anak bina iman stasi ini,” ungkap salah satu OMK.
Kegiatan ini diakhiri dengan menerima berkat dari pastor dan diselingi dengan lagu yang dibawakan oleh anak-anak yang ternyata memiliki bakat bernyanyi yang sangat indah. Lagu yang berjudul “Bersyukur” itu menambah haru dan bahagia tersendiri, mengingat bahwa anak-anak ini masih banyak yang belum beruntung, khususnya dalam mengecap dunia pendidikan. Kekurangan akan biaya dan letak tempat tinggal yang jauh dari sekolah-sekolah sehingga harus menempuh banyak waktu, menyebabkan sebagian besar anak-anak hidup di lingkungan rumah saja dengan keterbatasan pengetahuan yang dimiliki.
Pembagian bingkisan dan jamuan makan siang menjadi penutup “misi” OMK. Semoga kunjungan kali ini memberikan kenangan dan kebahagiaan tersendiri bagi adik-adik di di stasi ini. ***